Sebuah Refleksi Ketangguhan Iman Katolik Halmahera Utara.
Oleh; Nofino Lobiua,SH., (Tokoh Katolik Halut).
Setiap kali bulan Oktober tiba, ornamen Rosario dan untaian doa Salam Maria menggema dari sudut-sudut rumah di Bumi Hibua Lamo. Namun bagi kita umat Katolik di Halmahera ini, bulan Rosario bukan sekedar rutinitas devosi. Momentum ini adalah sebuah mesin waktu spiritual yang memanggil kita untuk menoleh ke belakang, menapaki jalinan sejarah yang sarat dengan air mata, keberanian, demi kesetiaan radikal para leluhur kita. Dua tonggak sejarah besar mencirikan siapa kita sebenarnya.
Fajar Iman Mamuya 1534 dan Eksodus Akbar kaum Mardika ke Cavite Filipina pada tahun 1662-1663. Dua peristiwa yang terpisah jarak lebih dari satu abad ini bukanlah kebetulan sejarah, melainkan satu garis kontinue dari genetika iman yang tangguh-sebuah warisan darah saksi iman yang mengalir di tubuh kita hari ini.
Mamuya 1534, Rahim Iman Nusantara.
Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa di pesisir Mamuya, Halmahera pada tahun 1534, fajar Kekristenan pertama kali terbit di seluruh kepulauan Nusantara. Melalui persahabatan tulus antara seorang pedagang Portugis, Gonzalo Velozo, dan leluhur kita, Kolano Mamuya, benih iman itu ditanam. Keberanian Kolano Mamuya untuk membuka hati menerima baptisan kudus dari Pastor Simon Vaz telah mengubah jalannya sejarah keselamatan di bumi Nusantara.
Mamuya Halmahera adalah Rahimnya
Di Tanah Suci ini, Iman Katolik bertunas dibawa asuhan langsung Sang Misionaris Agung, Santo Fransiskus Xaverius, pada tahun 1546. Leluhur kita menerima Kristus bukan karena paksaan, melainkan karena getaran kebenaran yang memerdekakan jiwanya.
Sejak saat itu mereka dikenal sebagai kaum Mardika-Orang-orang beriman yang merdeka.
Cavite 1663, Pengujian Di Tengah Badai.
Namun, setiap benih yang subur pasti akan diuji oleh badai. Ujian terbesar itu datang 129 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1662. Ketika politik kolonial Spanyol goyah dan memaksa garnisun militer mereka mundur, dari benteng Ternate dan Tidore menuju Manila. Kaum Katolik Mardika dihadapkan pada pilihan hidup mati. Menanggalkan iman Katolik demi kenyamanan menetap di tanah air, atau mempertahankan Kristus meski harus kehilangan tanah kelahiran.
Sejarah mencatat dengan penuh takjub, sekitar 200 warga Katolik Halmahera memilih memeluk salib mereka. Dipimpin oleh 7 klan Kapita/Keluarga perkasa yang legendaris: Nino Franco, De Leon, Ramos, De La Cruz, Pereira, Nigoza, dan Esteibar, mereka melakukan eksodus akbar melintasi samudera menuju Filipina. Menariknya, mereka tidak membawa emas atau rempah-rempah berharga. Satu-satunya harta karun yang mereka peluk erat di atas kapal adalah Patung Santo Nino de Ternate (Yesus Kanak-Kanak).
Mereka mendarat di pesisir Cavite dan mendirikan sebuah pemukiman yang hingga kini abadi dengan nama Kampung Ternate. Di sana, identitas Halmahera tak pernah punah; dialek Chavacano de Ternate yang mereka tuturkan hingga hari ini menjadi saksi bisu bahwa ingatan akan tanah leluhur Mamuya Halmahera dan keteguhan iman leluhur tidak akan pernah terkikis oleh jarak dan waktu.
Refleksi Bagi Umat Hari Ini Menjawab Tantangan Zaman.
Sebagai pewaris sah dari genetik Iman yang dasyat ini, apa artinya bagi kita umat Katolik di Halmahera Utara pada hari ini? Di Bulan Rosario ini, saat Bumi Halmahera sedang diuji oleh fenomena cuaca ekstrim dan kemarau panjang, yang mengeringkan lahan-lahan kita, kita diajak untuk tidak rapuh. Jika leluhur kita mampu menembus badai laut menuju Cavite demi mempertahankan iman, kita pun harus memiliki ketangguhan yang sama menghadapi krisis kehidupan saat ini.
Lewat perantaraan Bunda Maria, kita ketuk pintu surga agar Tuhan memulihkan tanah kita. Lebih dari itu, warisan iman Mamuya adalah warisan persaudaraan. Semangat ketulusan itu dihidupkan secara nyata ketika Duta Besar Vatikan, Mgr. Leopoldo Girelli, menginjakan kaki di Mamuya pada tahun 2009 untuk menyuntikan bantuan bagi pembangunan Gereja GMIH dan Masjid Mamuya.
Nilai kerukunan inilah yang dijaga oleh Keluarga Besar Lobiua, dengan menghibahkan tanah milik moyang kita Bitjoli Lobiua, demi berdirinya Masjid Mamuya.
Iman Katolik sejati di Halmahera Utara tidak pernah menjadi menara gading yang eksklusif. Iman kita adalah iman yang membumi, yang tangguh di dalam Salib, dan teduh dalam toleransi. Mari kita buka Bulan Rosario ini dengan satu komitmen agung: Api iman yang telah dinyalakan di Mamuya sejak tahun 1534, yang telah diuji di samudera Cavite, tidak akan pernah kita biarkan padam di tanah Halmahera ini.
Selamat Memasuki Hari-Hari Bulan Rosario, Bunda Maria Bintang Laut dan Benteng Iman kini menyertai dan melindungi kita. Dari Fajar Iman Mamuya Halmahera menuju Indonesia.



