Sebuah Resensi
oleh
Jubhar Christian Mangimbulude, Ph.D
Buku “Sekolah Rumah Pendidikan”, merupakan sebuah karya yang merefleksikan pemikiran filsafat konstruktivisme pendidikan. Ditulis dengan narasi prosa yang mengalir, buku ini enak dibaca serta memudahkan pembaca memahami alur gagasan dan pesan yang hendak disampaikan oleh penulis.
Secara keseluruhan, buku ini terdiri atas lima bagian yang saling terintegrasi. Setiap bagian membentuk sebuah pemahaman yang komprehensif dan mendasar tentang sekolah sebagai rumah pendidikan.
Penulis mengawali buku ini dengan menguraikan ide dan gagasan secara metaforis bahwa sekolah adalah rumah kedua. Gagasan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembahasan filosofis mengenai pendidikan dan hakikat kemanusiaan yang dikaitkan dengan konteks nilai-nilai sosial, budaya, dan kebangsaan.
Pada bagian kedua, penulis menggambarkan dinamika kehidupan sekolah. Salah satu gagasan yang sangat menarik adalah ketika penulis menempatkan guru sebagai arsitek jiwa. Dalam perspektif ini, guru bukan sekadar penyampai pengetahuan, melainkan aktor utama dalam proses pembentukan manusia seutuhnya.
Konsekuensi logis dari posisi dan peran tersebut adalah pentingnya perhatian terhadap kualitas, kompetensi, sikap, wawasan berpikir, kedewasaan intelektual, serta kesejahteraan guru.
Semua faktor tersebut menjadi kunci penting agar guru dapat menjalankan perannya secara optimal dalam membentuk generasi masa depan.
Penulis juga menyadari bahwa sistem pendidikan sering kali dirancang dari perspektif orang dewasa—guru, pembuat kebijakan, dan orang tua—tanpa sungguh-sungguh memahami bagaimana anak melihat dunianya. Padahal, dunia anak memiliki logika, emosi, pengalaman, dan dinamika yang berbeda.
Atas dasar itulah, penulis mencoba menempatkan bahasa pendidikan dari sudut pandang anak atau murid. Pendekatan ini menjadi penting karena pendidikan sejatinya harus mampu memahami subjek yang dididik, bukan sekadar memaksakan cara pandang orang dewasa kepada mereka.
Pada bagian ketiga dan keempat, penulis secara lugas menguraikan inovasi dan berbagai tantangan pendidikan. Salah satu fokus utama adalah bagaimana sekolah harus beradaptasi terhadap perubahan tradisi belajar-mengajar, terutama dengan hadirnya teknologi digital sebagai instrumen baru dalam proses pendidikan.
Dinamika perubahan tersebut mendorong penulis untuk membahas tentang sekolah di era digital. Namun, terdapat satu penekanan penting dalam pembahasan ini, yakni bahwa kekeliruan dan ketidaktepatan dalam menerapkan instrumen digital ke dalam sistem pendidikan dapat berimplikasi pada terjadinya dehumanisasi.
Teknologi seharusnya menjadi alat yang memperkuat proses pendidikan, bukan menggantikan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi hakikat utama pendidikan.
Penulis juga menyadari bahwa sekolah dan pendidikan merupakan ruang sosiogenesis yang turut menentukan terbentuknya masyarakat terdidik. Hal tersebut tercermin melalui pembahasan tentang pendidikan inklusif, keadilan sosial, serta sekolah dalam perspektif sosiologi.
Pendidikan inklusif membuka ruang bagi tumbuhnya kreativitas dan inovasi yang dapat diekspresikan melalui kehidupan sekolah. Sekolah bukan hanya tempat berlangsungnya transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga ruang sosial tempat nilai-nilai keadilan, kesetaraan, penghargaan terhadap perbedaan, dan kemanusiaan dibentuk.
Selain itu, penulis juga memberikan perhatian terhadap pentingnya membangun kesadaran lingkungan pada peserta didik sebagai respons terhadap krisis lingkungan global. Oleh karena itu, sekolah perlu memiliki perhatian serius terhadap kurikulum yang memuat dimensi ekologis sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan kesadaran siswa.
Kesadaran ekologis tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek kognitif, tetapi juga harus menyentuh aspek estetika dan etika lingkungan. Dengan demikian, peserta didik diharapkan tidak hanya memahami persoalan lingkungan, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga keberlanjutan kehidupan.
Pada bagian akhir, penulis menggambarkan sebuah gagasan visioner mengenai sekolah masa depan. Dalam bagian ini terdapat dua hal penting yang menjadi perhatian.
Pertama, hubungan antara sekolah dan teknologi. Sekolah masa depan berada di persimpangan antara humanisme dan teknologi. Di satu sisi, teknologi menawarkan peluang besar untuk meningkatkan kualitas dan memperluas akses pendidikan. Namun di sisi lain, terdapat risiko dehumanisasi yang harus diantisipasi secara serius.
Kedua, tentang manifesto pendidikan. Manifesto ini lahir dari kegelisahan terhadap wajah pendidikan yang terkadang kehilangan jiwa, sekaligus menjadi harapan akan hadirnya sekolah yang benar-benar menjadi ruang tumbuh bagi manusia seutuhnya.
Manifesto tersebut bukan sekadar wacana, melainkan sebuah panggilan untuk bertindak.
Pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang mengubah human being menjadi being a human.
Setelah membaca dan memahami keseluruhan isi buku Sekolah Rumah Pendidikan, selaku pembahas, saya memberikan apresiasi dan penghormatan yang tinggi kepada penulis.Tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa buku ini mencerminkan keluasan wawasan dan kedalaman gagasan penulis dalam bidang pendidikan. Terlihat jelas bahwa berbagai gagasan dan ide pemikiran yang dikembangkan dalam buku ini mendapatkan inspirasi dari pemikiran para filsuf pendidikan dunia.
Salah satu tokoh yang dapat ditemukan jejak pemikirannya dalam buku ini adalah Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan yang dikenal melalui karya monumentalnya Pedagogy of the Oppressed atau Pendidikan Kaum Tertindas. Semangat pendidikan yang membebaskan, memanusiakan, dan membangun kesadaran kritis terasa hadir dalam berbagai gagasan yang dikemukakan penulis.
Oleh karena itu, tepat kiranya apabila penulis disebut sebagai seorang pemikir pendidikan yang memiliki perhatian serius terhadap masa depan sekolah dan kemanusiaan.
Selaku pembahas, saya sangat merekomendasikan buku Sekolah Rumah Pendidikan untuk dibaca, dipahami, dan didiskusikan oleh berbagai pemangku kepentingan pendidikan, khususnya instansi dan penyelenggara pendidikan di Halmahera Utara.
Buku ini dapat menjadi semacam warisan pemikiran dan arah refleksi bagi para penyelenggara pendidikan, tidak hanya di Halmahera Utara, tetapi juga bagi dunia pendidikan Indonesia secara lebih luas.
Pada akhirnya, Sekolah Rumah Pendidikan mengingatkan kita bahwa sekolah bukan sekadar bangunan tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Sekolah adalah rumah kedua, ruang kemanusiaan, tempat nilai-nilai ditanamkan, karakter dibentuk, pengetahuan dikembangkan, dan masa depan peradaban dipersiapkan.
Karena itu, membangun sekolah sejatinya adalah membangun manusia. Dan membangun manusia adalah membangun masa depan bangsa.











