Garda Malut.id, Halut — Kehadiran Sekolah Rakyat yang merupakan program Nasional di Halut, patut diberi apresiasi oleh semua pihak karena membantu sekian banyak anak dari keluarga miskin memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan dengan saran dan prasarana yang tergolong lengkap.
Keberadaan Sekolah Rakyat di desa Kukumutuk, Kao Utara ini tak lepas dari perjuangan dan usaha Bupati Halut, Piet Hein Babua, yang terus berkomunikasi dan koordinasi dengan pemerintah pusat sehingga Halut bisa mendapat sekolah tersebut.
Kadis Sosial, Andarias M Panimba, saat ditemui media ini, Selasa, (01/09/26), mengungkapkan bahwa para orang tua diminta tidak kuatir atas proses pendidikan putra-putrinya di sekolah tersebut karena semua sarana dan fasilitasnya disiapkan oleh negara.
Untuk penjangkauan siswa-siswi Sekolah Rakyat tahun ajaran 2026/2027 telah dilakukan sebanyak 270 orang terdiri dari SD, 90 orang, SMP, 90 orang dan SMA 90 orang dengan persyaratan dari keluarga kurang mampu berdasarkan data DTSEN yaitu dari desil 1 (sangat miskin) dan desil 2 (miskin). Ini juga menjawab amanah UUD 1945 bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.
“Kami sudah melakukan penjangkauan, dan memang ada kendala-kendala yang dihadapi di lapangan, khususnya untuk anak SD yang masih umur 7 sampai 12 tahun.
Kan tidak semua orang tua mau untuk melepaskan anak, karena memang dia masih membutuhkan perhatian orang tua. Tapi orang tua tidak usah kuatir karena ada orang tua asuh di dalamnya dimana sistimnya sepuluh anak, didampingi oleh satu wali asuh. Dan jika ada misalnya 90 anak, berarti ada 9 orang wali asuhnya. Kemudian juga ada wali asrama, ada guru di dalamnya. Dan semua itu tersentral dalam satu sekolah”, ungkap Andar.
Menurut Andar, pihaknya sudah melakukan penjajakan, dan semuanya sudah siap. Cuma memang karena kendala sarana dan prasarana di Kukumutuk itu belum sepenuhnya bisa digunakan, belum 100%, sehingga tidak bisa memaksakan anak-anak untuk langsung masuk ke dalam.
“Kita menjaga dan menghindari resiko. Karena itu beberapa waktu lalu, kita buat semacam “running khusus”, untuk sekolah rakyat anak-anak rintisan. Sekolah rakyat SMP 32 Rintisan yang sudah ada di eks Rumah Sejahtera Tobelo.
Kita angkut ke sana, ke Kukumutuk 45 anak dan dilakukan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah).
Jadi jangan salah paham, karena MPLS yang dilakukan kemarin itu perkenalan khusus untuk anak-anak yang sudah sekolah di SMP 32 terintegrasi, bukan siswa-siswi yang baru. Mereka yang baru nanti akan mengikuti MPLS pada pertengahan bulan September ini”, ungkap Andar.
Andar juga memaparkan bahwa baru 45 siswa-siswi yang dipindahkan ke Kukumutuk karena kapasitasnya baru 45 orang, sementara fasilitas yang sudah siap yaitu asrama putra 1 putri 1 dengan kapasitas memuat sekitar 136 per asrama, 136 putra, 136 putri.
“Jadi kemungkinan nanti kalau misalnya fasilitas belum jadi semua, para siswa akan ditampung di satu tempat untuk SD, SMP, SMA. Dan jika sudah selesai semua bangunannya maka akan dipisah-pisah. Ada asrama SD, asrama SMP dan juga SMA.
Dan untuk asrama SD, ada dua untuk putra dan putri, beda dengan SMP dan SMA. Juga ada asrama untuk gurunya dan tenaga pendidikannya, tersendiri.
Terkait MPLS untuk siswa-siswi yang baru, nanti dilakukan pada pertengahan bulan September ini, menyesuaikan dengan agenda Bupati.
“Intinya adalah bagaimana supaya PT Hutama Karya yang melaksanakan proyek Sekolah Rakyat yang dikelola langsung dari Pemerintah Pusat khususnya Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia, menyelesaikan semua, agar fasilitasnya ada bisa segera digunakan, karena yang kita butuhkan sekarang itu adalah ruang kelas dimana sekarang sudah mencapai sekitar 95%, artinya itu sudah hampir selesai.
Kemudian yang kita butuhkan lagi adalah sarana ibadah. Karena setiap hari kan anak-anak harus beribadah, baik Kristen maupun Muslim, apalagi untuk teman-teman Muslim itu kan sholat lima waktu sehingga diupayakan bisa cepat selesai”, ungkap Andar.
Pihaknya sangat berharap agar orang tua tidak perlu kuatir tentang pendidikan putra-putri mereka di Sekolah Rakyat Kukumutuk karena semua sarana dan fasilitas disiapkan oleh negara. (red).













